Minggu, 04 Desember 2011

Kebakaran di Gang Flamboyan





pkspasarmanggis. Ahad, 4 Desember 2011 masyarakat dihebohkan oleh kobaran api yang membubung tinggi dengan asap hitamnya. Kepanikan berlanjut dengan teriakan untuk memadamkan listrik, padahal jaraknya cukup jauh.

Adzan Dzuhur yang berkumandang di Masjid Al Mujahidin diiringi dengan raung sirene 4 mobil pemadam kebakaran. Karena lokasi kebakaran berada di Gang Flamboyan Rt 009/012 Pasar Manggis yang tidak jauh dari kantor DPC PKS Setia Budi yang baru, mobil pemadam berhenti di Jl. Menteng Atas Selatan, 50 meter dari Masjid Al Mujahidin Menteng Atas.

Walau kesulitan menjinakan api karena dari lokasi kebakaran dengan berhenti mobil pemadam, dengan naik atap rumah warga, akhirnya tidak kurang dari 1 jam, petugas pemadam kebakaran yang dibantu warga berhasil menjinakan api yang menghanguskan 2 rumah kontrakan. Penghuni kontrakan yang tidak ada di rumah, sedang mengantarkan kripik dan pergi ke gereja.

Penyebab kebakaran yang ditangani Polsek Setia Budi belum diketahui. Namun, warga sekitar kebakaran mengatakan ada satu penghuni rumah yang keterbelakangan mental berada dalam rumah itu sedang merokok.

Jumat, 02 Desember 2011

Tasyakuran Kantor Baru DPC PKS Setiabudi







Kamis (1/12) malam selepas Sholat Isya, sebuah bangunan rumah di RW 12 Kelurahan Pasar Manggis nampak tidak seperti biasanya, terlihat bapak-bapak yang sebagian besar mengenakan sarung dengan berbaju koko dan berkopiyah memasuki rumah tersebut. Sebuah rumah yang terpasang dengan sangat jelas di pintu gerbangnya sebuah spanduk bertuliskan "Partai Keadilan Sejahtera Setiabudi, Siap Bekerja untuk Setiabudi".

Demikianlah suasana awal saat para warga kelurahan Pasar Manggis dalam menghadiri Tasyakuran Kantor baru Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKS Setiabudi.

Agenda Tasyakuran diawali dengan membaca surat Yassin berjamaah, dilanjutkan dengan pembacaan doa tahlil secara bersama-sama. Kemudian sambutan-sambutan oleh ketua DPC PKS Setiabudi dan perwakilan DPD PKS Jakarta Selatan.

Suasana tasyakuran semakin hangat saat seorang Ulama Kecamatan Setiabudi KH.Ramli Hasan memberikan ceramahnya. Haji Ramli, demikian sapaan akrab para Jamaah. Dalam ceramahnya, Haji Ramli menyatakan ungkapan terima kasih yang sangat tinggi kepada PKS, karena telah memberikan warna tersendiri terhadap Kecamatan Setiabudi, warna yang dimaksud adalah warna Islam. Momentum tahun baru Islam Hijriah menjadi sangat tepat dihubungkan dengan kepindahan kantor baru PKS Setiabudi menurut Haji Ramli. Lebih lanjut, Haji Ramli berpesan agar Kantor Baru PKS ini juga dapat memberikan semangat baru yang semakin tinggi dalam memberikan pelayanan kepada umat.

Tasyakuran yang penuh nuansa keakbraban ini akhirnya berakhir saat jarum jam menunjukkan pukul 9 malam. Sebelum para jamaah kembali ke rumah, struktur DPC PKS memberikan cindera mata berupa 1 buah Al Qur'an dan bingkisan makanan.

Berita Terkait :

http://www.pksetiabudi.org/2011/12/tasyakuran-kantor-baru-dpc-pks.html
http://www.pksetiabudi.org/2011/12/kantor-pks-terbuka-24-jam-untuk-umat.html
http://www.pksetiabudi.org/2011/12/jamaah-tasyakuran-kantor-pks-meluber-ke.html

PKS Gelar Jambore Penghafal Quran




JAKARTA - Sebagai partai dakwah berbasis kader, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terus melakukan pembinaan terhadap anggotanya. Berbagai bentuk pembinaan untuk peningkatan kapasitas kepribadian (capacity building) anggota terus dilakukan, salah satunya melalui Jambore Al-Qur'an (Mukhayyam Al-Qur'an).

Fungsionaris Departemen Manhaj dan Al-Qur'an, Bidang Kaderisasi DPP PKS, Abdul Aziz Abdul Rouf mengatakan, program Jambore Al-Qur'an ini bertujuan untuk membentuk kader sehingga memiliki kepribadian paripurna (robbani).

"PKS sangat peduli untuk membina kadernya dari segala aspek agar memiliki kepribadian robbani. Salah satunya melalui program ini. Program ini berkelanjutan yang dilaksanakan dua kali dalam setiap," kata Aziz di Jakarta, Kamis (1/12/2011).

Program ini bertempat di Graha Insan Cita, Depok, Jawa Barat, dan berlangsung sejak 25 November 2011 hingga 4 Desember 2011. Program ini, kata Aziz, diikuti oleh sekitar 140 orang peserta yang terdiri dari 27 perempuan dan 113 laki-laki.

"Setiap peserta wajib menyetorkan hafalan Al Quran paling sedikit 4 juz. Karena itu kami menciptakan iklim dalam jambore ini betul-betul bernuansa qur'ani. Ada kajiian Al-Qur'an, khatam 30 juz dalam sholat malam selama 9 hari jambore, dan mendengarkan bacaan (tasmi')," jelasnya yang juga sebagai ketua pelaksana program.

Para peserta, sambung Aziz, merupakan anggota inti perwakilan dari setiap provinsi dan perwakilan PKS di luar negeri. Dia menjelaskan, setiap 500 anggota inti di setiap provinsi diwakilkan satu orang. "Jadi kalau di DPW tersebut ada 2 ribu anggota inti, diwakili 4 orang," imbuhnya.

Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq menyatakan, agenda jambore seyogyanya dilaksanakan di seluruh Indonesia.

“Mukhayam Al Qur’an seperti ini nantinya harus dilaksanakan di seluruh DPW,” ujarnya.

Luthfi juga mengatakan, biaya pelaksanaan program ini sepenuhnya ditanggung DPP.

Jambore Al-Qur'an kali ini merupakan yang kedua kali diselenggarakan. Jambore Al-Qur'an pertama dilakukan pada Maret 2011 lalu bertempat di lokasi yang sama.
Salah seorang peserta dalam Jambore Al-Qur'an pertama adalah Mutammimul Ula, mantan anggota komisi I DPR RI. Seperti diketahui, sepuluh anak Mas Tamim, panggilan akrab politisi PKS itu merupakan penghafal Al-Qur'an (Hafidzul Qur'an). Salah seorang anaknya, Faris Jihady Hanifa memperoleh ijazah tertinggi dalam hafalan Al-Qur'an, yakni Sanad Syathibyah dalam bacaan Hafsh dari Ashim hingga ke Nabi Muhammad. Faris mendapat sanad pada urutan ke 31 dari Nabi Muhammad.

Sumber :
http://www.pk-sejahtera.org/content/pks-gelar-jambore-penghafal-quran

Kamis, 01 Desember 2011

SBY Kritik Guru, Gaji Besar Kinerja Kurang




Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengkritik belum optimalnya kinerja guru meski sudah mendapatkan peningkatan kesejahteraan.

Kritik itu disampaikan SBY dalam sambutannya pada acara puncak peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2011 dan HUT PGRI ke-66 di Sentul International Convention Centre, Bogor, Jawa Barat, Rabu (30/11/2011).

"Saya ingin memberi koreksi, terkait banyak yang lulus sertifikasi, akibatnya banyak yang sudah terima tunjangan profesi dan khusus dengan demikian kesejahteraan mereka pun meningkat, tapi saya masih mendapat masukan, kinerja mereka ternyata belum berubah," ujarnya.

Pada kesempatan itu SBY juga merintahkan agar sekolah-sekolah yang rusak harus diperbaiki dalam kurun waktu tiga tahun mendatang. "Infrastruktur di daerah yang masih jelek ada 10 sampai 15 persen, ini mesti diselesaikan 3 tahun mendatang," ujar SBY.

SBY bahkan meminta guru-guru sekolah yang bersangkutan agar terlibat yaitu ikut mengawasi dan memantau proses perbaikan tersebut hingga selesai tepat dalam tiga tahun.

Untuk anggaran pendidikan tahun 2012 mendatang, masih kata SBY, pemerintah akan mengajukan sebesar Rp289,6 triliun. Nilai ini meningkat dari anggaran tahun ini yaitu sebesar Rp866,9 triliun. Pemerintah yakin, DPR akan menyetujui karena ini berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan. [mah]

Sumber :
http://id.berita.yahoo.com/sby-kritik-guru-gaji-besar-kinerja-kurang-150000985.html

Rabu, 30 November 2011

Ini Akibatnya Jika Salah Memandang Konsep Islam!



KOMARUDDIN Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, belum lama ini menulis opini di harian KOMPAS (05/11/2011) berjudul “Keislaman Indonesia”.

Intisari dari tulisan tersebut adalah mengkritik prilaku Muslim Indonesia dan Negara-negara Arab yang disebut lebih mementingkan aspek ritual dari pada keslehan sosial. Sekaligus membandingkannya dengan Negara-negara maju non-Muslim yang dinilai lebih Islami.

Komaruddin Hidayat mengutip hasil riset Scheharazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University pada 2010 lalu tentang perilaku masyarakat Muslim. Penelitian itu menyebutkan, dari sebanyak 208 negara, Negara-negara Muslim anggota OKI rata-rata berada di urutan ke-139. Alias, Negara-negara sekuler perilaku masyarakatnya katanya lebih ‘Islami’ dari pada masyarakat Muslim.

Menafikan teologi

Tentu, mudah ditebak bahwa pendekatan yang digunakan untuk menilai perilaku masyarakat tersebut adalah sosiologis, bukan teologis. Bukan pula gabungan sosiologis-teologis. Hal ini dapat ditangkap dari tulisan Komaruddin Hidayat:

"Para ustaz dan kiai itu difasilitasi untuk melihat dari dekat kehidupan sosial di sana dan bertemu sejumlah tokoh. Setiba di Tanah Air, hampir semua mengakui bahwa kehidupan sosial di Jepang lebih mencerminkan nilai-nilai Islam ketimbang yang mereka jumpai, baik di Indonesia maupun di Timur Tengah. Masyarakat terbiasa antre, menjaga kebersihan, kejujuran, suka menolong, dan nilai-nilai Islam lain yang justru makin sulit ditemukan di Indonesia,” begitu tulisnya.

Artinya, perilaku dan karakter masyarakat yang menjadi objek penelitian, tidak dikaitkan dengan teologi. Sehingga, apapun bentuk akidah masyarakat tersebut, dapat saja disebut Islami, asalkan memenuhi syarat yang ia jadikan indikator.

Bisa diperhatikan, kepercayaan kepada Tuhan, Wahyu Tuhan dan kepada Nabi tidak menjadi parameter dalam penilaian tersebut. Akan tetapi justru karakter-karakter umum yang menjadi indikator. Persoalan apakah warga Jepang tersebut percaya pada Allah, al-Qur’an atau peribadatan yang berkaitan dengan hubungannya dengan Tuhan diabaikan.

Meskipun disebut dalam riset tersebut, bahwa indikator penelitiannya diambil dari ajaran al-Qur’an dan Hadist, namun bukan berarti riset itu menggunakan pendekatan teologis.

Model pengamatan seperti ini merupakan tradisi peneliti-peneliti postmodern. Yakni, sosiologi tidak dikaitkan dengan teologi. Teologi telah dimatikan.

Inilah problem mendasarnya. Penelitian tidak menjelajah konsep-konsep teologis agama sebagai indikator utama. Kepercayaan dan akidah bukan sasaran utama penelitian untuk menilai seseorang itu religius, Islami atau tidak islami. Peter L. Berger mengatakan, perspektif sosiologis concern pada struktur sosial, dan konstruksi pengalaman manusia.

Problemnya lagi, Berger menjelaskan bahwa dalam perspektif sosiologis, agama-agama dimasukkan ke dalam budaya (Peter L. Berger, The Social Reality of Religion, halaman 1).

Michael S. Northocott mengamini. Katanya, dalam pendekatan sosiologis, agama adalah salah satu bentuk konstruksi sosial (Peter Connolly, Aneka Pendekatan Studi Agama).

Jadi, framework pendekatan sosilogis ala Barat menepatkan agama-agama sebagai produk budaya atau bentuk konstruksi sosial. Maklum saja, pendekatan ini anti-metafisikia. Bagi August Comte, metafisika itu kuno dan tergantikan oleh sains.

Mindset Orientalis

Makanya, Rehman, Askari dan Komaruddin Hidayat dalam opini tersebut sama sekali tidak menjadikan kepercayaan transendensi menjadi indiator utama. Mereka hanya menilai keislaman itu dari “kebiasaan disipilin antre”, “menjaga kebersihan”, “tidak korupsi”, “suka menolong” dan lain sebagainya.

Ada alasan kenapa yang dipilih adalah sosiologis bukan teologis. Mohammed Arkoun, pemikir liberal Arab asal Aljazair mengatakan, pendekatan teologis itu kuno, menimbulkan ‘clash’ antar pemeluk agama, dan menghidupkan ideologi truth claim (baca Al-Almanah wa al-Din, al-Islam, al-Masih, al-Gharb).

Model penelitian seperti inilah yang menjadi trend orientalis atau sarjana Barat pengkaji studi agama. Salah satunya tokoh pluralisme Agama, John Hick dan William P. Aston. Hick dan Aston sepakat, pengalaman religius itu menjadi parameter untuk menjustifikasi keyakinan beragama. Tampaknya Komaruddin Hidayat meniru tokoh ini.

Hick menjelaskan bahwa pengalaman dan karakter religius itu dapat ditemukan pada semua agama. Wajar saja kemudian Komaruddin, Rehman dan Askari berani mengatakan masyarakat Selandia Baru, Luksemburg dan Jepang “lebih islami” daripada masyarakat Timur Tengah dan Indonesia.

Secara kasar dapat dikatakan, orang Jepang yang atheis bisa menjadi sholeh. Atau masyarakat Selandia Baru yang Kristen perilakunya bisa menjadi islami. Inilah logika ‘ngawur’-nya.

Bagaimana mungkin seorang yang menghujat Tuhan dan menghina al-Qur’an dapat dinilai sebagai orang baik, berkarakter sholeh?

Jelas saja, pilihan sosiologis dalam riset tersebut berimplikasi terhadap cara pandang terhadap agama-agama. Agama adalah budaya dan agama adalah hasil konstruksi sosial masyarakat religius. Siapa saja bisa menjadi orang baik apapun agamanya.

Ujungnya, jika logika ini diteruskan akan menghasilkan keyakinan, bahwa semua agama adalah sama. Artinya, pendekatan sosiologis ala Barat tersebut memproduk ‘akidah’ Pluralisme Agama.

Inilah yang disebut kerancuan konsep dan berfikir. Yang disalah pahamai dalam konteks ini adalah konsep sholeh, konsep Islam dan konsep masyarakat Islami.

Syed Naquib al-Attas, menjelaskan indikator pertama untuk menilai seorang itu sholeh atau tidak adalah adabnya kepada Allah. Orang yang tidak percaya Tuhan, atau atheis adalah orang yang tidak beradab kepada Tuhannya, alias biadab.

Meskipun si atheis atau si kafir itu orang berdisiplin, jujur dan suka menolong orang lain tetap disebut biadab, bukan beradab. Sebab, amalnya batal atau tidak sah di depan Allah SWT.

Seperti firman Allah: “Dan orang-orang kafir amal-amalnya mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatangi ‘air’ itu, maka dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.” (QS. Al-Nur: 39).

Karenanya, karakter masyarakat non-Muslim yang kita anggap berbudaya disiplin, jujur dan tidak korupsi itu sesungguhnya hanya karakter palsu, laksana fatamorgana.

Makanya, mereka tidak dapat disebut masyarakat yang islami. Yang islami apanya? Percaya kepada Allah saja tidak, shalat tidak, bertauhid-pun juga tidak.

Yusuf Qaradhawi dan Ibnu Khaldun dengan jelas mendefinisikan ‘masyarakat islami’ itu adalah masyarakat yang menjadikan aqidah Islam sebagai pondasi dasar dalam melakukan aktifitas sosial.

Menurut al-Attas, orang baik itu adalah baik secara teologis sekaligus baik secara sosiologis. Bukan, baik secara sosiologis tapi jahat secara teologis. Inilah karakter yang disebut Islami. Al-Attas mengatakan:

“Orang baik adalah orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Tuhan Yang Haq; yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap diri dan orang lain dalam masyarakatnya; yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia yang beradab.” (Syed M.Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin).

Cara pandang postmo seperti ini sering dipakai kalangan liberal untuk berpendapat. Misalnya, pendapat yang mengatakan, “saya tidak shalat, tetapi baik pada tetangga.” Atau pendapat lain yang mengatakan, “Lebih baik beramal meski tidak shalat, daripada shalat tapi tidak beramal.”

Padahal dalil dalam al-Quran sangat jelas mengatakan;

”Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan (orang kafir), lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS: al-furqan ayat 23)

Kebersihan atau kerapian memang salah satu sifat Islam. Namun tidak bisa serta-merta disebut islami hanya dengan salah satu indikasi ini saja. Orang Muslimpun tak masuk kreteria “islami” jika niat melakukan kebersihan atau mencegah korupsi untuk tujuan riya’ atau hanya ingin dipandang baik di masyarakat. Apalagi orang kafir yang tak meyakini tauhid.

Tentu, cara pandang ini tidak mampu menilai secara hakiki identitas agama-agama, dan tidak adil menilai karakter religious seseorang.

Artinya, pendekatan sosiologis tersebut gagal menilai agama. Sebab hanya mampu menilai identitas permukaannya saja, sedangkan inti keislaman yaitu akidah sebagai motornya agama justru diabaikan.

Ini tentu berbeda dengan cara pandang para ilmuan Muslim. Ibn Khaldun dan al-Biruni dalam meneliti keagamaan masyarakat selalu mengaitkan dengan teologi. Karena keberagamaan itu terletak kepada teologi sebagai asasnya.

Tentu berbeda lagi jika Komaruddin Hidayat menjadikan antropologi dan sosiologi sebagai 'teologi'. Jika ini yang terjadi, maka selamanya tidak akan dapat menemukan hakikat agama keislaman, sebagaiman yang terjadi dalam tradisi pemikir postmodern.
http://www.blogger.com/img/blank.gif
Ternyata secara sosiologis pun baik pengamatan Komaruddin Hidayat, Rehman maupun Askari tidak adil. Coba lihat, bagaimana mereka melepaskan pandangannya tentang masyarakat di Negara-negara Barat yang berbudaya free sex, pergaulan bebas, minum-minuman keras dan lain sebagainya. Bahkan bagi Barat, seks itu adalah bagian dari peradabannya. Bagaimanakah Komaruddin, Rehman dan Askari menyebutnya sebagai ‘lebih islami’, dibanding orang Islam?

Penulis adalah alumni Jurusan Ilmu Akidah Pascasarjana Institut Studi Islam Darussalam Gontor Ponorogo

Keterangan foto: Kota Jepang yang bersih, tapi tak percaya Tuhan, apa juga disebut "islami?'

sumber :
http://pks-cianjur.org/index.php/artikel/tatsqif/580-ini-akibatnya-jika-salah-memandang-konsep-islam.html

Selasa, 29 November 2011

Apel Siaga Kepanduan DPD Jaksel

Ahad, 27 November 2011 di Bumi Perkemahan Ragunan, Kepanduan Jakarta Selatan mengadakan Apel Siaga dengan Komandan Upacara Bapak Sugeng dan Inspektur Upacaranya Ustadz Khoiruddin, Ketua DPD Jakarta Selatan. Penuhnya areal Komplek Bumi Perkemahan Ragunan, dari anak-anak SD yang mengadakan Persami (Perkemahan Sabtu Minggu), Komunitas Vespa dengan ajang silaturahmi sampai calon Satpam yang sedang latihan. Kepanduan dan Santika dengan tidak canggung berbaur,sambil menuju tempat Apel Siaga. Dalam amanatnya dihadapan 100 Kepanduan dan Santika, Ketua DPD PKS Jaksel mengatakan: "Sekarang ini, kepanduan adalah Relawan bukan pengamanan lagi, karena pengamanan sudah ada timnya. Dan, yang dibutuhkan masyarakat kita saat ini adalah relawan. Relawan bukan hanya ketika ada musibah saja, tetapi relawan ketika ada pelayanan sosial. Jangan bosan untuk memberi masyarakat, biar perut mereka dahulu, lalu ke otaknya, dan mudah-mudahan ke hati mereka. Di Tunisia yang memenangkan pemilunya adalah bukan kadernya melainkan relawannya, yang rata-rata PSK." Dan sebagai penutupnya, Ustadz Khoiruddin mengingikan Jakarta Selatan relawan 1.000 orang yang berdiri dihadapan beliau, amin. Allahu Akbar !!!

Jumat, 25 November 2011

Sambut Hari Guru Nasional, PKS Ajak Kader Sowan Para Guru



"Oemar Bakri ... Oemar Bakri
Bikin otak orang seperti otak Habibie
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri
Seperti dikebiri."

(Lagu Oemar Bakri karya Iwan Fals)

Senin, 07 November 2011

Kurban



pkspasarmanggis. Kurban berarti dekat atau mendekat, berarti setelah setiap hari kita sudah dekat dengan Allah melalui shalat, shaum sunnah, infaq, sedekah dan kebajikan lainnya, kita berusaha mendekatkan lagi dengan mencari sesuatu yang terbaik untuk dipersembahkan kepada Allah, seperti anak-anak Nabi Adam AS.

Bahkan, kita berusaha mendekatkan diri kepada Allah seperti Nabi Ibrahim AS, yang tega meninggalkan anak istri disebuah lembah tandus tiada air, makanan, pepohonan, hewan, dan manusia karena Allah. Dan istrinya pun menjalaninya dengan ikhlas, bersedia ditinggalkan bersama anaknya yang masih bayi di lembah tandus karena perintah Allah. Bukan seperti istri-istri kita, yang baru ditinggal sebentar untuk liqo’, pertemuan, mabit, sebentar-bentar SMS, sebentar-bentar menelpon suaminya yang sedang liqo’, kapan selesainya, masih lama gak?

Ditambah lagi dalam mimpinya Nabi Ibrahim AS, yang tidak ada kata “HARUS” dan “WAJIB” seperti kita dalam ta’limat, bahkan sampai ditelepon, di SMS, dijemput, padahal itu adalah sudah merupakan kewajiban kita di dalam jama’ah maupun di struktual, segera melaksankan titah Allah SWT untuk menyembelih anaknya yang baru beliau jumpai setelah sekian lama tidak bertemu, karena beliau paham itu adalah kewajiban. Kita pun harus memahami, bahwa apa yang dituntut jama’ah dan struktur merupakan kewajiban.

Jika kita berkurban dengan seekor kambing seharga dua juta setahun satu, sesungguhnya kita sudah bisa membeli HP yang harganya dua juta pula dalam setahun dua, apa ini yang disebut berkurban? Karena dalam jama’ah ini dibutuhkan lebih dari apa yang kita cintai, yaitu nyawa kita.

Ketika liqo’ sudah jarang hadir, ketika pertemuan yang diadakan struktur tidak hadir, bahkan ketika hadir pun tidak merasakan kebahagian apapun, tidak ada rasa, jasadnya hadir, namun hatinya sedang melayang, apakah bisa kita berkurban?

Inilah pelajaran yang harus kita pahami dalam berkurban. Mudah-mudahan, kita dapat menghayatinya dan merubah persepsi kita di dalam berjama’ah dan di struktural.

Berbagi Kebahagian dengan Kurban






pkspasarmanggis. Ahad, 6 November 2011 M bertepatan tanggal 10 Dzulhijjah 1432 H, DPRa PKS Pasar Manggis mengadakan pemotongan hewan kurban berupa satu ekor sapi dari Bang Sani di sekretariat DPC PKS Setia Budi.

DPRa PKS Pasar Manggis yang menumpang memotong sapi di DPC PKS Pasar Manggis, maka dibentuklah panitia bersama untuk efisien waktu dan tenaga agar pada hari Ahad ini semua hewan kurban dapat dipotong dan distribusikan.

Tidak kurang 400 kupon tersebar di 12 RW yang ada di kelurahan Pasar Manggis melalui Koordinator RW (Kor We) yang telah terbentuk di DPRa PKS Pasar Manggis, walaupun masih terasa kurang untuk memenuhi seluruh kader maupun simpatisan yang ada.

Disaat pembagian yang ditukar kupon dengan kantong berisi daging, MC yang membuka acara pembagian, bapak Lukman Hakim mengatakan bahwa daging kurban yang tersedia di PKS saat ini dari Bang Sani, Insya Allah jika Bang Sani terpilih menjadi gubernur DKI Jakarta tahun 2012 nanti, di Pasar Manggis bukan Cuma satu sapi, tapi bisa lebih dari satu ekor.

Alhamdulillah, pembagian berjalan tertib, aman, dan terkendali, semua mendapatkan satu kantong berisi daging sapi, termasuk panitia. Di hari yang penuh barokah, ketika Allah telah memberikan banyak kenikmatan kepada kita, maka kita pun disuruh untuk shalat dan berkurban dengan daging kurban, untuk diberikan kepada yang membutuhkannya, berbagi kebahagian dengan kurban.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More