Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Juni 2013

Saya Dibayar 2 M oleh PKS




pkspasarmanggis - Saya tertawa terkekeh-kekeh membaca tulisan blogger di rumah sehat ini. Ada yang menuliskan fenomena omjay yang tiba-tiba banyak menulis tentang pks. Saya pun dicurigai sebagai orang bayaran yang sengaja dibayar oleh pks untuk mengkampanyekan pks, partai keadilan sejahtera.

Sebagai seorang blogger yang bebas, saya sedang mencoba menulis melawan arus media utama. Sekaligus menjadi ujicoba suara blogger di dunia maya. dari situ saya akan melihat kecerdasan seorang blogger dalam menangkap isu seputar dunia politik.

Bagi saya, pks itu partai yang unik dan keunikannya terlihat dari pengkaderan partainya. Walaupun saya melihat pks sekarang agak sedikit berbeda dengan pks kepengurusan sebelumnya. Mungkin anda merasakannya.

Pks adalah salah satu partai yang dengan tegas menolak kurikulum 2013. Sebab kurikulum ini belum siap dilaksanakan dan terlalu dipaksakan oleh pemerintah. Kita bisa melihat ada 6 fraksi di dpr menerima dengan catatan dan 3 fraksi menolak karena kesiapannya yang belum matang.

Bagi saya yang seorang guru, gebrakan pks ini sangat bagus dan kritis. Pengertian koalisi ala pks tak mesti menerima begitu saja keputusan pemerintah. Oleh karena itu, saya sangat mengapresiasinya.

Nampaknya publik mulai digiring agar tak memilih pks dalam pemilu nanti. Ini jelas penggiringan publik yg sengaja dilancarkan oleh para pesaing pks. Hal itu lumrah saja. Namanya juga berebut pengaruh. Siapa yang bisa berpengaruh, maka dia akan menang.

Pks digoyang, pks menang adalah tulisan saya yang bisa menjadi sebuah otokritik bagi pks. Juga tulisan saya tentang jokowi dipuji dan pks dimaki sebagai bahan bagi PKS untuk introspeksi diri.

Lalu pertanyaannya, berapa duit saya dibayar untuk menulis tentang pks? Jawabnya saya dibayar 2M. Bukan dua milyar, tapi Makasih mas, Makasih mbak. Hehehe

Salam blogger persahabatan
Omjay



Sumber : kompasiana

Kamis, 23 Mei 2013

PKS Korban "Malpraktek" KPK




pkspasarmanggis - Indonesia Lawyers Club (ILC), acara andalan TV One, hari Selasa malam 21 Mei 2013 judulnya cukup aktraktif, “Prahara di PKS Sampai ke Mana ?”. Namun saya sungguh kurang tertarik, sudah terbayang yang akan terjadi adalah sahut-sahutan debat kusir antara Fahri, Fajrul, Sutan Batoegana, dll. Saya hampir saja mematikan TV jika tidak melihat sesuatu yang sedikit unik, kok meja yang disediakan untuk wakil PKS kosong melompong, ada apa?.


Walhasil saya coba mengikuti sejenak, ingin tahu bagaimana suasana ILC jika di-WO oleh “pesakitannya”. Di menit2 awal, ILC malam itu membosankan juga. Bang Karni hanya mengulang-ulang pertanyaan yang sudah pernah beliau sampaikan pada episode yang lalu, antara lain mengenai logika hukum KPK dalam menyita harta orang yang berasal dari atau bertransaksi dengan Ahmad Fathanah. Jubir KPK Johan Budi yang di episode lalu ditodong dengan pertanyaan tersebut, tidak pernah berhasil memberikan jawaban yang memuaskan. Febri Diansyah SH, peneliti ICW, yang pada kesempatan kali ini mencoba membantu memberikan jawaban, malah terkesan tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Akibatnya, lawyer senior Teuku Nasrullah menyindir Febri dengan mengatakan, jika ICW terima dana dari pihak asing, boleh jadi itu dari perjudian atau bisnis narkoba, bagaimana ICW mengetahuinya, bukankah berprasangka baik saja..

Pertanyaan Bang Karni lainnya yang dimunculkan lagi adalah tentang dasar hukum penerapan TPPU terhadap swasta. Juga tentang siapa pelaku utama kasus suap impor sapi yang tentunya mesti seorang penyelenggara negara dan dalam kapasitas jabatannya tersebut, sesuai UU Tipikor. Sementara itu peran LHI, mantan presiden PKS, bukan dalam kapasitas penyelenggara negara. Kali ini Bang Karni tidak bertanya kepada Johan Budi, akan tetapi kepada mantan penasihat KPK Abdullah Hehamahua yang mungkin dianggapnya lebih mampu menjelaskan. Sayangnya Hehamahua hanya “nyengir” dan mengelak untuk menjawab dengan alasan tidak mau mencampuri proses peradilan.

Pertanyaan-pertanyaan kritis Bang Karni tersebut kemudian dilempar kepada Prof. Romli Atmasasmita. Suasana sidang ILC mendadak berubah menjadi seperti kuliah umum. Mahaguru hukum senior ini memulainya dengan memaparkan rambu-rambu UU Tipikor, masalah trading in influence, pencucian uang, dll. Orang awam yang kurang melek hukum, saya yakin tercerahkan. Bahkan para aktifis dan praktisi hukum yunior yang hadir, seperti dari ICW, Fitra, dll, tentu juga tercerahkan. Prof. Romli sempat meluruskan pemahaman peneliti ICW Febri Diansyah SH yang sebelumnya juga berbicara tentang trading in influence, TPPU, dll. Bukan hanya itu, KPK tentu “tersengat” pula ketika Prof. Romli menyampaikan bahwa KPK abai terhadap rambu2 UU Tipikor dalam hal penyitaan barang yang diduga terkait TPPU. Padahal penjelasan undang-undang cukup jelas dan sengaja dibuat sebagai rambu2 agar tidak dipakai salah dan agar orang tidak resah. Beliau menyesalkan kurangnya sosialisasi UU TPPU tersebut sebelum disahkan. Secara tersirat beliau seperti ingin mengatakan bahwa para aparat penegak hukum telah melakukan kesalahan, dalam hal ini KPK.


Prof. Romli boleh dibilang adalah bintang acara ILC malam itu. Beliau paham betul tafsir pasal demi pasal UU tentang korupsi karena ikut merancangnya. Tidak heran jika apa yang diutarakannya menjawab tuntas semua pertanyaan yang mengganjal di benak Bang Karni selama berpekan-pekan, mungkin juga pertanyaan, kebingungan dan keresahan publik. Prof. Romli menjelaskan bahwa tidak semua orang yang terima uang diduga pidana bisa langsung diklaim (disita). TPPU harus diawali dengan indikasi yang kuat bahwa harta tersebut berasal dari hasil korupsi.

Menjawab pertanyaan Bang Karni, apakah boleh TPPU dikembangkan ke kasus lain (setelah kasus dugaan awal tidak bisa dibuktikan). Prof. Romli menegaskan, “tidak boleh”.

Prof. Romli berpendapat, KPK sangat berat untuk membuktikan bahwa uang dari AF hasil korupsi, pasal TPPU tidak bisa menjerat AF karena bukan penyelenggara negara.

Beliau menambahkan, sistim hukum Indonesia menganut prinsip non-self implementing legislation.

Konvensi PBB yang memuat aturan trading in influence sekalipun telah diratifikasi Indonesia, tidak bisa menjadi rujukan hukum selama belum ada undang2 pengesahan. Berbeda dengan “law” yang mana cukup lapor ke DPR bahwa telah diadopsi.

KPK menurut Prof Romli juga akan sulit menjerat LHI karena trading in influence belum diundangkan. Posisi LHI sebagai anggota DPR tidak bisa mengatur kuota, sementara itu jabatannya sebagai presiden PKS dalam kasus tersebut tidak dalam konteks penyelenggara negara. Sementara itu Mentan Suswono belum terbukti menambah kuota, alias belum terjadi.

Paling-paling LHI dikenakan tuduhan suap, tapi Luthfi belum terima uang. KPK harus bisa buktikan LHI belum terima karena terhalang bukan karena sukarela, jelas Prof Romli.



Sejauh ini dari kesaksian AF dan bukti2 lainnya, termasuk rekaman, belum ditemukan fakta bahwa AF adalah suruhan LHI.


Jika demikian, semua penyitaan yang dilakukan KPK menjadi diragukan dasar hukumnya.

Prof. Romli mengingatkan KPK bahwa pihak yang dirugikan bisa menuntut balik.


Apakah bisa disimpulkan KPK telah melakukan “malpraktek”?.

Jika demikian, tidak ada salahnya pihak2 yang merasa dirugikan untuk menggugat KPK ke Pengadilan Negeri.

Hal ini perlu keberanian, mengingat publik bisa saja menuding para penggugat sedang melakukan serangan atau kriminalisasi terhadap KPK.

Namun tidak ada salahnya dicoba, demi mencegah terjadinya diktatorisme penegakkan hukum.


Berikut ini pasal tentang rehabilitasi dan kompensasi.


UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 20 TAHUN 2001

TENTANG

PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999

TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI


BAB VIII

REHABILITASI DAN KOMPENSASI

Pasal 63

(1) Dalam hal seseorang dirugikan sebagai akibat penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan, yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi secara bertentangan dengan Undang-Undang ini atau dengan hukum yang berlaku, orang yang bersangkutan berhak untuk mengajukan gugatan rehabilitasi dan/atau kompensasi.

(2) Gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tidak mengurangi hak orang yang dirugikan untuk mengajukan gugatan praperadilan, jika terdapat alasan-alasan pengajuan praperadilan sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

(3) Gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Pengadilan Negeri yang
berwenang mengadili perkara tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54.

(4) Dalam putusan Pengadilan Negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditentukan jenis, jumlah, jangka waktu, dan cara pelaksanaan rehabilitasi dan/atau kompensasi yang harus dipenuhi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.


Sumber : Kompasiana

Rabu, 22 Mei 2013

KPK Dikesankan Cuma “Obok-obok” PKS, PD Mana?




pkspasarmanggis - Di status Facebook, saya paling getol menghantam dan mengganyang pelaku korupsi, meski lewat senjata kata-kata. Tidak peduli dia dari partai apa, agama apa, pejabat siapa, dan suku mana. Saya biasa menerakan hashtag #corruptshit sebagai olok-olok yang maknanya bisa ditebak. Saya memang benci koruptor, benci pelaku korup, sehingga saya anggap koruptor yang telah menggasak uang rakyat itu tidak ubahnya sebagai s**t. Anda boleh protes, tetapi begitulah sikap saya.

Saya ikuti terus gerak-gerik KPK sebagai lembaga antirasuah yang kali ini sangat tanggap terhadap temuan segelintir oknum PKS yang diduga melakukan praktik korup atas rencana penambahan kuota daging sapi impor. Akan tetapi yang mencengangkan, setidak-tidaknya mencengangkang saya pribadi, adalah proses hukum yang diberlakukan terhadap petinggi PKS itu yang tergolong cepat. Lutfi Hassan Ishaq dan Ahmad Fathanah serta beberapa pengusaha importir yang menjadi tersangka, langsung ditahan dan disidangkan. Maharany dan Hilmi dijadikan saksi, termasuk Presiden PKS Anis Matta.

Saya harus bilang salut-salut saja terhadap kerja dan kinerja KPK yang cepat itu, karena memang begitulah seharusnya. Rakyat ingin segera tahu dan mendapat kepastian, di mana gerangan letak korupsi yang disangkakan kepada PKS. Orang-orang PKS dan simpatisannya juga ingin segera mengetahui hasilnya, sebab dalam pandangan mereka, tidak ada uang negara yang dikorupsi oleh PKS. Dengan demikian, apa definisi korupsi di mata KPK sehingga publik segera tahu; oh di situ toh salahnya Lutfi dan Fathanah, oh ya… pantaslah kalau mereka dihukum sesuai undang-undang. Saya, walaupun bukan orang PKS, tetap ingin tahu hasilnya… oh begini toh, dan seterusnya.

Namun jujur, ada yang mengganjal dalam hati dan pikir saya tatkala memutar jarum ingatan ke belakang yang belum lama terjadi. Bahwa, beberapa bulan sebelum ramai-ramai PKS yang dalam berita di Jakarta Post kemarin ditulis “Sex, Lies and the PKS” terkena kasus, KPK sudah jauh-jauh hari menetapkan petinggi Partai Demokrat (PD) sebagai tersangka, yakni Menpora Andi Alifian Mallarangeng dan (mantan) Ketua Umum Anas Urbaningrum. Berbeda dengan petinggi PKS yang sudah langsung ditetapkan tersangka lalu tidak lama kemudian digelar persidangan di pengadilan Tipikor, terhadap kasus Hambalang yang menimpa petinggi PD, hilang seperti bayang-bayang, menguap seolah-olah tanpa bekas. Wajarlah kalau saya bertanya-tanya dalam hati; adakah perlakuan KPK yang berbeda terhadap PKS dan PD?

Timbul purbasangka dalam diri; jangan-jangan KPK tidak punya atau kurang cukup punya nyali dalam memberantas korupsi yang dilakukan sejumlah elite partai berkuasa? Jangan-jangan jika Anas Urbaningrum disidangkan, ia akan membocorkan semua orang yang menerima duit Hambalang, termasuk oleh lingkaran Istana dan keluarga Presiden. Kita diingatkan kembali, Ibas pernah disebut-sebut menerima uang Hambalang dan ada bukti yang sempat beredar, meski tentu saja Ibas membantahnya. Bisa jadi Anas dalam sidang tidak hanya menyebut Ibas, tetapi menyebut keluarga SBY lainnya dalam kasus Hambalang. Bukankah jika ini terjadi akan mengguncang stabilitas negara?

Apakah karena alasan ini KPK menjadi takut dan berusaha menunda-nunda proses hukum terhadap para tersangka korupsi di PD? Mengapa tersangka PKS langsung ditahan sementara tersangka PD bisa lenggang-kangkung ke mana ia suka, termasuk melancong ke Bali? Tidakkah ini bentuk diskriminasi hukum yang nyata-nyata dilakukan KPK terhadap sesama tersangka? Bagaimana KPK menjelaskannya kepada publik tentang hal ini? Jangan-jangan kalau para tersangka dibiarkan berkeliaran, mereka cukup waktu untuk membuat manuver-manuver, misalnya menghilangkan bukti-bukti. Apakah kemungkinan ini luput dari antisipasi KPK?

Saya kira, KPK harus menunjukkan kepada publik satu bentuk keadilan yang berlaku sama buat semua, tidak pilih-kasih dan tebang pilih. Publik sangat menghargai dan mendukung kerja serta kinerja KPK sebagai lembaga antirasuah yang disegani. Namun demikian, publik juga harus diberi satu pehamaman yang bisa diterima akal sehat, bahwa apa yang dilakukan KPK adalah suatu proses hukum yang adil bagi para tersangka koruptor, baik dari PD, PKS, Golkar, PDIP, atau partai-partai lainnya. Dengan demikian, KPK tidak terkesan tebang-pilih dalam melakukan proses hukum, sebagaimana perbandingan terhadap PKS dan PD.

Sebagai teman Ketua KPK Abraham Samad (semasa bertugas di Makassar 2002-2004 kami teman makan dan jalan), saya bisa saja menelepon yang bersangkutan atau setidak-tidaknya berkirim SMS menanyakan tentang hal ini. Tetapi, rasanya saya tidak harus menempuh jalur kedekatan ini untuk sekadar ingin tahu secara pribadi. Lebih baik dikemukakan saja kepada publik seperti ini, biar menjadi pembelajaran bersama.


Sumber : Kompasiana

Senin, 29 April 2013

Gelora Bung Karno Ala Anis Matta



pkspasarmanggis - Siapa yang bisa menyangkal kalau Presiden PKS sekarang, Anis Matta itu penuh Gelora, banyak orang yang suka dan terinspirasi dari pidato-pidatonya, entah itu orang yang suka PKS ataupun mungkin yang tidak suka, namun tetap harus diakui bahwa pidatonya inspirasi dan memotivasi seluruh pendengarnya. Kalimat dan kata-katanya singkat namun berisi padat, contoh saya ambil dari Pidato beliau di Bali (12/2/2013), sebagai berikut :

“Semua pekerjaan besar didalam sejarah membutuhkan waktu yang panjang. Tidak ada pekerjaan besar yang bisa kita selesaikan dalam satu hari, dalam satu minggu, dalam satu bulan, dalam satu tahun, dalam sepuluh tahun, tidak ada. Pekerjaan-pekerjaan besar itu membutuhkan waktu yang lama.”

“Anda tahu kenapa agama selalu menjadi fenomena dalam sejarah umat manusia? Tidak ada satu ajaran yang menyebar sekuat tersebarnya agama di dunia ini. Karena itu adalah pekerjaan ribuan tahun, yang dilakukan oleh serial nabi-nabi dan rasul. “

“Kerja besar itu membutuhkan waktu yang panjang. Jadi kalau anda punya gelora, anda punya api didalam diri, anda punya badai di dalam diri, maka yang kita perlukan selanjutnya adalah tangan dingin. Karena kita akan bekerja dalam waktu yang panjang, nonstop.”

“Dan waktu kita bekerja dalam waktu yang panjang itu seringkali pekerjaan itu tidak disertai dengan sorotan media, tidak disertai dengan tepuk tangan, tapi justru disertai dengan kritik demi kritik cacian makian dan seterusnya.”

Foto di atas merupakan foto yang diambil ketika Anis Matta di Bali bertemu dengan kader-kader Bali.

Terlihat dengan jelas tumpukan buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, yang mana akhirnya buku ini dibagikan Anis Matta kepada pengurus PKS, sehingga tidaklah heran kalau Anis Matta sering disandingkan dengan gelar Soekarno Muda, dimana pidatonya penuh gelora dan selalu menyedot konsentrasi pendengarnya.
Gelora yang sangat kental dulunya dengan Bung Karno, Gelora yang membahana dalam jiwa dan keluar dari lisan dalam bentuk pidato yang memukau. Pidato Anis Matta selalu bisa mengharu birukan suasana , menghadirkan air mata di tengah heroiknya semangat, dan ini lah Soekarno Muda.

Dan memang Anis Matta mengakui banyak terinspirasi dengan Soekarno sejak dari kecil, Anis Matta sudah tamat membaca buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat” ketika beliau masih sekolah di SMP.

(hal ini bisa disimak dalam Pidato Anis Matta di Bali http://www.youtube.com/watch?v=-ySKugPNNeY)
Gelora Bung Karno Ala Anis Matta dapat dilihat dalam pidato-pidato Anis Matta. Dan tentu itu banyak (dapat di search di Youtube), antara lain;
Pidato Politik Perdana Anis Matta selaku Presiden PKS, http://www.youtube.com/watch?v=fgl9gYGYRbI
Presiden PKS, Anis Matta pada acara Konsolidasi PKS Jawa Barat http://www.youtube.com/watch?v=TpKWRameWNE
Pidato Politik Presiden PKS, Anis Matta ketika Milad 15 PKS yang baru kemarin http://www.youtube.com/watch?v=Dr2R5WbzoBw


Sumber : Kompasiana

Sabtu, 27 April 2013

Sang Penyemangat Jihad



masih teringat jelas
berat suara nafasmu
perlahan…
tertahan..
beradu dengan langkah sayupmu
kala kau pulang pukul 03.47
kemudian disusul dengan suara asing dari channel TV kesukaanmu
atau suara bisikan bibirmu mengucap, kala kau membaca buku…
atau tawa lepasmu yang menyusul tepat beberapa menit setelah suara telfonmu mendayu..

masih teringat jelas, ayah…
kelembutan sekaligus lelah yang tertahan dan terpaksa terpancar di sorot matamu
kala pagi kami hendak berangkat sekolah
pelukan hangatmu yang seolah tidak risih akan gerak-gerik kami yang membangunkanmu dari lelapmu yang baru..
serta kecupan manismu di kening kami yang seolah membayar segala rindu yang memang telah tertahan sejak kemarin-kemarin..

segalanya, masih teringat jelas ayah..
jelas betul dalam ingatan kami..
takpeduli, bahwa segalanya kini diperantarai oleh selembar dua lembar kertas surat..
dan terkadang, tanpa tersentuh indra kehangatanmu sama sekali..
segalanya, masih teringat jelas.

kemudian malam itu
ketika tangan-tangan asing wartawan
menarik…
mendorong…
memperlakukanmu seolah akan melumat habis dirimu
panas hati kami,
panas jiwa-jiwa kami, ayah..

nafas kami tercekat seakan terhenti sejenak
mata kami terbelalak, namun tetap airmata kami tahan
sengaja tak kami biarkan ia jatuh..
tubuh kami terkaku namun tetap memaksa telinga kami mendengar jernih apa yang mereka tuduhkan kepadamu

kasus suap??
itukah yang merekah tuduhkan?
habiskah akal mereka menuduhkan itu padamu?

tidakkah mereka tau?
detik ketika mereka tidur terlelap menikmati waktu istirahatnya
kau justru baru memulai rapat kesekianmu untuk membersihkan
korupsi, kolusi, nepotisme
yang mereka bilang mereka benci?
tidakkah mereka tau?
ketika mereka asik bermimpi,
terlelap dalam mimpi indahnya
mimpi tentang Negara Republik Indonesia
yang bersih

jauuuuh dari kenistaan dan kemarukan petinggi-petingginya
kala itu kau bekerja keras untuk membuat itu terjadi?
menjadikan itu tidak hanya sebatas mimpi
menjadikan mimpi mereka menjadi realiti,
kenyataan
tidakkah mereka tau?
ketika kata jihad masih sebuah teori bagi mereka
hanya sebatas angan semata,
kau sudah jauh habiskan waktumu,
jiwamu,
fikiranmu,
hartamu untuk itu..
ketika jihad masih menjadi cita-cita bagi kami
kau seakan jauh
jauuuuuuh telah meninggalkan kami…
tidakkah mereka tau?
ketika mereka menggerutu atas kelelahan mereka
mengeluh atas kesibukan dunia mereka
engkau, ayah
ayah kami ini
dengan senyuman hangat dan setengah mata menahan lelahnya
membukakan pintu rumahnya
menerima setiap gerutu tamunya
kekhawatiran tamunya
keluh kesahnya..
kebutuhannya..
kemudian memberinya solusi
tanpa sedetikpun
tanpa sejenak saja ia menoleh kepada istirahatnya
Kepada hak tubuhnya..

sekarang mereka tuduhkan itu kepadamu ayah?
telingakukah yang salah?
Jangan.. Ayah..
jangan ragu untuk memanggil kami ayah..
bawa jiwa-raga kami bersaksi atas jihadmu yang nyata
karna tak secuilpuun hati kami percaya apa kata mereka
apa tuduhan mereka
apa fitnah mereka ayah..
takkan pernah kami percaya
takkan pernah..

kami tidakkan diam menangisimu ayah
kami akan tetap melangkah
melanjutkan langkah jihadmu
tak peduli sekerdil apapun kami
kami tidak akan malu dan menundukkan kepala kami ayah..
kami akan buktikan bahwa semangat kami takkan kalah dari semangatmu
akan kami tunjukkan
akan kami renggut kembali engkau kembali ke langkah jihadmu, ayah..
jangan engkau khawatirkan kami, ayah..
karna sebagaimana Allah SWT bersamamu
Ia juga bersama langkah-langkah kami..

doa kami selalu untukmu ayah..
tetaplah tenang dan tersenyum di sana
tetaplah pancarkan tatapan penuh semangatmu..
penghidup semangat tinggi kami,,
tetaplah tersenyum Ayah
hingga kau kembali ke dekapan kami…


Karya: Putra-Putri Luthfi Hasan Ishaaq

Anak-anak adalah anak-anak. Mereka adalah cermin sebuah kejujuran dan ketulusan dari sekelilingnya. Kasus yang tengah menimpa Luthfi Hasan Ishaaq, mantan Presiden PKS, yang asalnya soal suap daging sapi dan sekarang berubah menjadi TPPU (pencucian uang), jelas berpengaruh kepada anak-anak beliau. Selama hampir dua bulan setengah, mereka tidak berjumpa dengan ayahnya. Maklum, sekarang ini LHI, begitu biasa Luthfi dipanggil, tengah ditahan di Rutan Guntur, Jakarta. Memang, ada juga kunjungan di waktu-waktu tertentu, namun itu tentu tidak cukup mengobati kerinduan mereka terhadap ayah tercinta.

LHI mempunyai putra 13 orang. Syair di atas adalah puisi yang ditulis oleh anak-anaknya, dan kemudian dibacakan di acara Milad PKS di Semarang, pekan lalu, 18-19 April 2013. (Sumber: IslamPos.Com)

Minggu, 21 April 2013

Saya Bangga Berada Di Barisan Dakwah Ini




#Sharing 15 Tahun PKS
Oleh Akmal Sjafril
@malakmalakmal


pkspasarmanggis - Menyambut 15 tahun PKS, saya ingin ikut berkontribusi. Sekedar sumbang cerita. Saya bukan Qiyadah, karena itu, saya tidak ikut Rapimnas ke Semarang. Jadi, nge-tweet aja deh. Di PKS, saya bukan siapa-siapa. Anehnya, kalau ada apa-apa soal PKS, ada aja yang nanya ke saya. Ini bukan kasus saya saja. Diam-diam, banyak sekali kader PKS yang mengalami hal yang sama. Mereka, seperti saya, cuma kader biasa. Tapi kalau ada berita soal PKS, di mana-mana responnya luar.

Banyak yang bukan kader PKS tapi kalau bicara soal PKS heboh sekali. Lebih heboh daripada kader-kader PKS. Sekilas, mereka kelihatan banyak tahu daripada kader-kader PKS. Lucu juga sih. Ketika ada isu “faksi keadilan” dan “faksi sejahtera”, siapa yang heboh? Kader, gitu? Paling maksimal, kader PKS hanya keheranan. Dari mana datangnya isu faksi macam-macam begitu? Ada juga slogan yang sering diulang-ulang: “PKS sudah ditinggalkan kader-kader aslinya!” Siapa yang heboh mendengar berita seperti ini? Kader? Ciyus? Enelan? :p

Tapi bohong juga kalau saya, anak bawang di gerbong dakwah ini, mengaku tidak pernah gamang. Saya pun, seperti anak-anak bawang lainnya, pernah gamang mendengar dan membaca berita-berita soal PKS. PKS ditinggalkan kader-kader aslinya! Bukan main bombastisnya berita ini! Tapi apa benar? Sampai akhirnya saya hadir ke acara Milad PKS (tahun berapa? Lupa). Ternyata, kader-kader lama masih aktif aja tuh. Kader-kader meninggalkan PKS? Ada, tapi kata siapa banyak? Banyak itu berapa persen? Berapa banyak, sih? Saya pun mengenal beberapa orang yang benar-benar pernah jadi kader PKS dan sekarang telah keluar. Alhamdulillaah, setelah mengenal mereka, saya makin yakin untuk tetap berada di PKS.

Hal lain yang menarik adalah betapa banyak orang salah sangka mengenai kader-kader PKS, terutama tentang cara kami memandang PKS. Banyak orang berpikir bahwa bagi kami PKS adalah segala-galanya. Seolah-olah tiap hari, tiap jam mikirin PKS. Malah saya heran, karena yang benci banget sm PKS itulah yang lebih banyak mikirin PKS. Tidak, isi kepala kami bukan PKS melulu. Allah dan Rasul-Nya, Islam, dakwah, tarbiyah, itulah yang menyita pikiran kami. Percaya atau tidak, baru beberapa tahun terakhir saja saya punya atribut PKS.

Tahun lalu akhirnya saya punya baju PKS berwarna putih. Sengaja beli supaya sesuai dengan dress code Milad di GBK. Punya atribut PKS memang nggak penting2 amat. Toh, di mata sebagian orang, tetap saja saya identik dengan PKS. Kampanye? Walah, saya males banget ikutan yang beginian. (mudah2an nggak di-iqob!) :D

Kalau ada kampanye, biasanya diawali dengan taujih. Nah saya datang untuk dengerin yang satu itu! Atau, beberapa tahun terakhir ini, biasanya ada senam. Ini juga asyik untuk diikuti. Bikin sehat. Kampanye keliling kota? Hmmmm belum pernah tuh... (ampuuun saya kader yang bandel!) Makanya saya heran kalau orang berpikir bahwa kader-kader PKS selalu mikirin PKS. Islam lebih luas daripada PKS, bro!

Itulah sebabnya sampai sekarang saya temukan ada saja orang yang terkaget-kaget dengan eksistensi kader-kader PKS. Misalnya, kaget begitu mengetahui bahwa bosnya di kantor adalah kader PKS. Ada juga yang kaget ketika mengetahui bahwa tukang mie ayam langganannya ternyata kader PKS. Pengurus DPC pula! Ngomong-ngomong, mantan supir antar jemput langganan saya waktu TK sekarang jadi sesepuh PKS di daerahnya juga. Di PKS ada pengusaha, programmer, dosen, tukang sayur, montir, kartunis, dan sebagainya. Mantan preman juga ada! Mereka jarang pakai atribut PKS atau bahkan hampir tak pernah bicarakan PKS. Ada temen kuliah yang bilang, “Kalo ada mahasiswa cakep dan alim dikit aja, gak jauh2 deh dari PKS!” Dia termasuk yang gak nyadar kalo saya juga kader PKS. Padahal saya kan sesuai banget dengan deskripsi tadi. :p

Tidak semua kader PKS itu sibuk di PKS. Banyak yang kesibukannya di luar PKS. Mereka yang menonjol di bidangnya masing-masing biasanya dibiarkan aktif di luar partai. Sebab memang di situ lahan dakwahnya. Salah satu karakter penting dan kunci sukses PKS adalah jati dirinya sebagai partai kader. Setiap kader, tanpa kecuali, harus mengikuti program tarbiyah. Ada alurnya, ada kurikulumnya. Nggak ada ceritanya orang baru masuk PKS tau-tau udah jadi anggota Majelis Syuro, misalnya. Makanya, kalo ada yang nyinyir menuduh kader-kader PKS ingin kejar jabatan, ya kita nyengir aja deh. Mau jadi Ketua DPC? Boleh. Udah apal berapa juz? Mau jadi Presiden PKS? Boleh juga. Udah apal berapa juz? :D Hapalan mentok di Juz 30? Hmm….waiting list deh ya, 1.000 taun lagi! wkwkwkwk

Di PKS, mengajukan diri tidak dibudayakan, bahkan tidak diperbolehkan. Kalau ada yang ajukan diri jadi Presiden partai, insya Allah dia takkan jadi presiden selama-lamanya. Soal menolak jabatan, kader-kader PKS paling jago. Ini partai paling nggak jelas, emang. LOL
Syahdan, ada seorang ustadz yang ditunjuk untuk jadi caleg. Panik, beliau langsung melancarkan lobi2 maut supaya penunjukannya dibatalkan. Supaya dibatalkan, lho! Lobi-lobi gagal, mental semua. Alasannya: kalau 1 orang boleh mundur tanpa alasan syar’i, ntar semua pengen ikutan. Alhasil, keluarlah jurus terakhir. Infaq! Yak, beliau berjanji akan infaq dalam jumlah besar. Syaratnya, dia gak disuruh jadi caleg! Gimana akhir ceritanya? Hehe rahasia ah... yang jelas, keanehan-keanehan macam begini memang ada aja di PKS.

Kaderisasi di PKS mmg gak sembarangan. Yang pasti, semua kader wajib ngaji. Minimal sekali sepekan. Kenapa? Ya, supaya kondisi ruhiyyahnya di-charge terus. Kalau jiwanya hidup, yang lain ngikut. Pengajiannya sekali sepekan, tapi tarbiyah dirinya setiap hari. Ini justru yang paling penting. Waktu saya baru mulai ngaji, sempat keheranan juga. Ibadah aja kok sistematis banget. Biasanya, shalat-shalat sunnah itu ya tergantung selera aja. Tapi di PKS, semua dilatih. Kalo bisa dibikin sistematis, kenapa nggak? Tilawah, shalat dhuha, qiyamul lail, shaum sunnah, semua terencana. Gimana kalo latihannya nggak niat, sehingga gak ada progres? Ya gak apa-apa sih, tapi gak bakal maju-maju kalo gitu. Semakin besar amanah, semakin kencang fitnahnya. Maka, pegangannya harus makin kuat. Setelah dapat amanah besar malah gak ada waktu untuk ibadah harian? Yang kayak gitu bisa ‘ditarik’ kapan aja. Almarhumah Bu Yoyoh Yusroh, ibu dari 13 orang anak merangkap anggota DPR, tilawahnya 3 juz sehari.

Kenapa? Ya, tilawah 1 juz sehari itu standar kader biasa, bro. Bukan beliau aja. Banyak ustadz/ah lain yang ibadah hariannya tidak kalah ‘mengerikan’. Tapi tak usahlah disebut-sebut. Untuk beberapa fungsionaris seperti anggota DPR, memang ada pengecualian. Bisa saja orang menjadi aleg FPKS dari ‘jalur profesional’. Artinya, ia direkrut karena keahliannya, meski tidak ada background ‘ngaji’. Kok bisa? Ya, soalnya di PKS, aleg itu bukan ‘raja-raja kecil’. Mereka adalah pion-pion partai. Tugas mereka adalah menjalankan amanah dari partai. Tidak amanah? Tegur! Ngeyel? Pecat! Beresss.

Itulah mungkin salah satu sebabnya mengapa di PKS jarang ada konflik internal. Sebab, seluruh fungsionaris partai adalah pelaksana amanah dari partai. Tidak boleh membawa kepentingan pribadi. Beda pendapat itu biasa, tapi diselesaikan di syuro. Selepas syuro, tidak ada pendapat selain pendapat syuro.

Ada evaluasi atau otokritik? No problem. Dibahas lagi di syuro. Nggak ada yang ngomong“Gw bilang juga apa....!?” Kader-kader PKS, karena memang hidupnya bukan hanya di PKS, mencari nafkah pun tidak di PKS. Meski ada yang secara profesional digaji oleh partai, tapi penghasilan utamanya bukan di situ. Partai adalah sarana dakwah, bukan sarana memperkaya diri. Kalau PKS gelar aksi munashoroh Palestina di sekitar Bundaran HI, misalnya, berangkat dengan dana sendiri-sendiri. Ada sih yang nyewa bis dengan ongkos dari partai. Ada juga yang makan siangnya dikoordinir. Tapi nerima amplop sih nggak deh. Udah capek-capek ke lokasi, berpanas-panas, teriak-teriak, eh disuruh infaq pula! Itu sih biasa di PKS. Biarpun kondisi kadernya macem-macem, gak saling iri. Yang miskin gak dengki sama yang makmur. Makanya, waktu ada omongan, “kasihan kader-kader yang miskin melihat qiyadah yang kaya-kaya”, saya bingung. Kader yang mana? Kader mana yang suka ngiri dengan kemakmuran saudaranya? Kader yang sering bolos ngaji kali yee…

Padahal, semua orang sudah tau bahwa makin banyak sedekah, makin lancar rejekinya. Jadi, kalau ustadz-ustadz pada makmur, ya gak usah curiga. Infaqnya juga gede-gede. Wajar rejekinya lancar. Ust. Lani, tokoh senior di PKS, juga pernah bilang begitu. Biasanya, yang makmur-makmur itu ya yang infaqnya gede-gede. Gak usah ngiri. Apa ada buktinya? Ah, ntar kalo disodorin bukti dan saksinya, malah dituduh riya’ lagi... Gak usahlah... :D

Di PKS, tradisinya ‘jemput bola’, bukan menunggu. Semua kader harus proaktif. Jadi jangan heran, ketika PKS ‘disentil’, Presiden PKS langsung berorasi. Mesin partai segera bekerja. Biarpun partai kecil, tapi semua proaktif. Gak perlu instruksi. Semua bekerja dengan caranya masing-masing. Kader-kader PKS dari Sabang sampai Merauke, di dalam dan di luar negeri, semuanya bekerja.

Tak terasa, sudah 15 tahun PKS. Rasanya baru kemarin berdiri. Waktu itu saya masih SMA. Masih bejibun PR yang belum tuntas. Tantangan dari hari ke hari makin berat. Ini sunnatullaah untuk gerakan dakwah. PKS masih banyak kekurangan. Kader-kader PKS paling tahu soal ini. Kader-kader PKS tumbuh dewasa bersama jama’ahnya. Tidak ada yang tiba-tiba. PKS seperti anak macan yang baru lahir ‘kemarin’. Perlahan-lahan, taring dan kukunya tumbuh. Tapi gak usah takut, karena macan yang satu ini punya slogan yang sangat simpatik: Cinta, Kerja dan Harmoni :)

Saya bangga berada di barisan dakwah ini, meski saya bukan siapa-siapa.

Allaahu Akbar!!!

Rabu, 10 April 2013

9 Alasan Aku Jadi Kader PKS!



pkspasarmanggis - Meskipun PKS alias Partai Keadilan Sejahtera didera dan dibenci. Meskipun PKS dijadikan alat pencitraan partai lain. Meskipun PKS dianggap sebagai partai yang tidak islami. Meskipun PKS dicemooh dan diolok-olok oleh musuh-musuh Allah. Meskipun PKS dan kader PKS dianggap sebagai pendukung partai taklid. Meskipun PKS dianggap sama dengan partai sekuler yang juga korup. Meskipun PKS dihujat habis-habisan. Bagiku PKS tetaplah yang terbaik. Aku tetap istiqomah dan mendukung PKS apapun yang terjadi. Aku memiliki 10 alasan untuk tetap istiqomah mendukung PKS.

Satu, PKS satu-satunya partai yang didukung oleh umat Islam. Jadi sebagai seorang muslim saya wajib dan fardhu ain untuk mendukung PKS.

Dua, PKS satu-satunya partai dakwah Islam di Indonesia yang membawa beban berat mengidentifikasi diri sebagai partai Islam dan representasi Islam. PKS mewakili kebenaran dan keindahan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Untuk itu segala perbuatan PKS harus islami dan tak boleh melenceng dari agama Islam. Untuk itu, tidak ada sama sekali perbuatan kader dan elite PKS yang menunjukkan perbuatan buruk dan mereka cenderung maksum.

Ketiga, PKS satu-satunya partai yang menjamin keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Buktinya setiap perbuatan dihubungkan dengan keimanan dan keselamatan fid dunya wal akhirah.

Keempat, PKS satu-satunya partai paling bersih dan peduli terhadap kehidupan bersih dan anti terhadap korupsi, kolusi dan nepotisme. Tidak ada satu pun kader PKS yang terlibat kasus KKN apapun selama PKS menjadi partai politik dan insya Allah sampai akhir zaman.

Kelima, PKS satu-satunya partai yang mengenal tabayun, usroh - gerakan dakwah syiar bawah tanah di kampus-kampus secara diam-diam dan klandestin yang dilanjutkan dengan rohis dan pengajian-pengajian kampus. Inilah yang menjamin kaderisasi yang brilian sepanjang massa. Dengan demikian PKS menjadi satu-satunya partai politik yang selama bumi masih berputar dan matahari masih terbit dari barat atau timur sebagai mana diyakini oleh kader PKS - asalkan informasinya dari elite PKS akan dipercayai - maka Insya Allah atas kehendak Allah SWT PKS akan tetap berdiri sebagai partai sampai akhir zaman. Allahumma Amin.

Keenam, PKS adalah satu-satunya parpol di Indonesia yang melakukan pelatihan, pengkaderan secara sistematis, terencana dengan melakukan brainwashing secara total sehingga menciptakan kaderisasi yang militant. Kader PKS dikenal unggul dalam hal taklid dan kejumudan yang mengakar dan disertai oleh sudut pandang egosentris yang berkecenderungan membabihutanbutakan semua hal yang berada di luar kemampuan berpikir para kader. Sistem susunisasi top down dari elite kepada grass root diyakini sebagai kebenaran mutlat adalah alat efektif menopang keberadaan dan kesetiaan para kader PKS kepada perjuangan dan agama PKS.

Ketujuh, PKS adalah satu-satunya partai yang menjamin keselamatan hidup di dunia dan akhirat bagi para kadernya jika menjalankan syariat Islam, perintah Allah SWT, perintah Rasulullah SAW, ajaran para alim ulama cerdik pandai dan terpenting pula ajaran para elite partai yang sekaligus sebagai ustadz - tak ada partai lainnya yang para pemimpin dan elite partainya adalah para utdaz dan ustadzah seperti ustadz Anis Matta, mubalighoh Luthfi Hasan Ishaaq, dan masih banyak yang lainnya seperti Ustadz Tifatul Sembiring dan ustadz yang sudah tidak aktif lagi karena sibuk berpolitik dan menjadikan politik sebagai ganti berdakwah, Hidayat Nur Wahid.

Delapan, kader PKS paling pintar beropini dan sangat sopan dalam mengomentari dan menerima kritikan dari para musuh PKS yang melakukan serangan. Para kader PKS pun terkenal sebagai ksatria dan selalu memakai akun kloningan sebagai bentuk perjuangan membela PKS agar bisa berbicara paling keras sekalipun tak akan ada risiko.

Sembilan, PKS adalah partai yang selalu menjadi sasaran konspirasi baik internal maupun eksternal PKS. Salah satu bentuk nyata konspirasi tersebut dialamatkan kepada Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq yang dituduh tidak melakukan korupsi, namun justru dicokok KPK sebagai koruptor. Lebih parah lagi konspirasi itu disertai dengan upaya menjelek-jelekkan PKS dengan gratifikasi seks yang diperankan oleh kader PKS Ustadz Achmad Fathanah dan mahasiswi Maharany Suciono. Ini benar-benar fitnah keji terhadap elite PKS.

Itulah 10 alasanku jika aku menjadi kader PKS, namun ternyata banyak juga yang tidak mendukung PKS sama sekali oleh karena kesembilan hal tersebut! Apakah dengan paparan ini Anda masih tidak mendukung PKS? Subkhanallah!

Salam bahagia ala saya!


Sumber: Kompasiana

Jumat, 29 Maret 2013

Soekarno Muda Telah Muncul



pkspasarmanggis - Adakah sosok yang bisa disamakan dengan pahlawan revolusi Soekarno? Jawabnya: TIDAK ADA! TIDAK AKAN BISA! Bahkan dalam peradaban dunia pun, Soekarno tak tertandingi karakternya. Dia besar dan membesarkan sejarah. Keniscayaan sejarah masa kini adalah pengulangan potongan-potongan sejarah masa lalu. Sepotong sejarah Soekarno sebagai orator ulung akan saya kultwit dari sisi kompetensi SDM. Serta lahirnya sosok orator yang bagi saya sangat mendekati kompetensi Soekarno dalam berorasi itu.

Setelah 43 tahun ditinggal pergi Putra Sang Fajar, nyaris Indonesia tak punya orator sehebat Soekarno. 21 Juni 1970 hembusan nafas terakhir sang orator terhebat yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Setelah itu Indonesia tak punya lagi sosok yang menggebu-gebu dipodium dengan ide-ide besar dan menggelorakan jiwa. Kompetensi sebagai orator adalah paduan antara komunikasi, kepemimpinan, penguasaan massa, dan ide materi. Coba cek jejak-jejak orasi Soekarno di youtube, pahami, resapi kalimat demi kalimatnya. LUAR BIASA!! Niscaya seakan ada hawa energi yang masuk telinga dan mengalir ke smua pembuluh darah, bergolak! Itulah salah satu cara awam ‘membaca’ kompetensi orasi Soekarno tanpa perlu assessment psikologis.

Sekarang mari lihat sekeliling, adakah sosok yang punya kemiripan kompetensi orasi ala Soekarno? Setelah puluhan tokoh nasional saya teliti rekamannya di youtube, ada 1 yang punya kemiripan kompetensi itu, yaitu Anis Matta. Saat Soekarno jadi Presiden RI usianya 44 tahun 2 bulan, Anis Matta diangkat jadi Presiden PKS usia 44 tahun 2 bulan. Bandingkan gaya orasi Soekarno dan Anis Matta, cermati, amati di youtube.

Sebelum Anda melihat dengan seksama perbandingan pidato-pidato mereka, tolong jangan komentar dulu. Saya beri kesmpatan Anda nonton dulu beberapa saat, link Soekarno: http://t.co/ziMKmGn6jk link: Anis Matta http://t.co/KBDZaFI72A

Sudah nonton?? ……… Sudah amati?? Jalan-jalan lagi liat pidato-pidato mereka lainnya. Jika sudah puas nonton merapat lagi yuk. Ada beberapa kompetensi orasi yang sangat mirip antara keduanya. Gaya orasi bung Karno khas berapi-api, meledak-ledak. Anis Matta memiliki hal yang sama. Khas irama suara Bung Karno tember barhat (berat empuk) menarik dan diapason yang luas. Khas irama suara Anis Matta lebih tember ringan, bergelombang dan diapason yang juga luas. Beberapa frase diucapkan seperti bisikan, tenang membeku, hadirin bisa menahan nafas menunggu kata apa yang keluar setelahnya. Kadang intonasinya arus laut, lembut mengayun dari tengah, lalu bergemuruh melabrak karang di tepian.

Antara perasaan dan ide yang meluncur seakan campur jadi satu adonan kue yang sangat renyah dinikmati, tapi bertenaga. Mereka juga ahli bahasa, menguasai banyak kosakata, membumbui pidatonya dengan metafora dan perumpamaan. Mereka juga sering ambil kisah-kisah masa lalu, epic peradaban, dan menyitir perkataan tokoh-tokoh besar dunia. Mereka juga mampu mgerakkan massa besar sesuai kapasitasnya, Soekarno dengan rakyat RI dan Anis Matta dengan ‘rakyat’ PKS. Kemenangan Pilkada PKS di Jabar dan Sumut setelah dihantam “badai KPK” adalah bukti kecil kemampuan Anis Matta gerakkan massa.

Lantas, dengan kemiripan satu kompetensi orasi tersebut apakah layak Anis Matta disebut
‘Soekarno Muda?’ Untuk saat ini, masih terlalu dini. Namun bakat itu telah muncul secara alami dalam diri Anis Matta sebagai Soekarno Muda. Tinggal dibuktikan seiring perjalanan waktu, terutama kebersihannya dari tudingan-tudingan miring selama ini. Juga pengorbanan nyatanya sebagai seorang negawaran, bukan hanya sebagai politikus. Sejarah jadi saksi, apakah benih Sang ‘Soekarno Muda’ akan tumbuh dan berkembang atau layu dimakan zaman. Karena Soekarno-pun tak pernah melingkarkan rolex ditangannya. Semoga ‘Soekarno Muda’ itu jadi harapan bangsa, MERDEKA!!


Sumber : chirpstory @pkscihuui

Jumat, 22 Februari 2013

Politik Santun ala Ahmad Heryawan

pkspasarmanggis - Menyaksikan acara debat Cagub Jawa Barat yang ditayangkan TVOne semalam cukup mengesankan sekali. Salah satunya adalah apa yang ditampilkan oleh Ahmad Heryawan, salah satu kandidat dengan nomor urut 4.Tidak sedikit pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kandidat lain dengan nada memojokkan, menyerang bahkan menjatuhkan pada saat sesi Saling Uji antar Calon. Tapi sikap yang ditunjukkan calon yang dipanggel Aher ini sangat berbeda, bukan terjebak untuk menyerang balik lawan tapi justru beliau memberikan sikap yang konstruktif dengan memberikan pujian atau sanjungan terhadap pengkritik itu.



Berkali-kali juga pasangan lain memberikan kritik yang mengarah pada tuduhan-tuduhan dengan data-data. Namun semua dapat dipatahkan karena data yang diberikan tidak valid. Dan yang sangat menarik adalah saat Ahmad Heryawan dihujat dengan program “Sekolah Gratisnya” oleh pasangan Yance-Tatang , Aher justru membalasnya dengan pujian: Bahwasanya yang menjadikan inspirasi program pendidikan di Jawa Barat tersebut adalah keberhasilan program pendidikan di Indramayu. Lain lagi ketika pasangan nomor urut 4 itu diberikan kesempatan untuk menjawab “serangan” dari pasangan Dede Yusuf-Lex Laksmana, yang notabene kedua orang tersebut juga memiliki status yang sama sebagai petahan atau incumbent, Aher bisa saja membuka apa yang tidak diketahui publik (tentang kinerja) Dede Yusuf dan Lex Laksmana sebagai partner pemerintahannya, tetapi itu tidak dilakukannya. Aher justru mempersilakan pasangannya yaitu Dedy Mizwar untuk menanggapi. Dengan sikap yang elegan ini justru membuka mata publik bagaimana sikap bijak Ahmad Heryawan terhadap lawan-lawannya. Dan tentunya masih banyak lagi cuplikan debat semalam yang bisa kita telaah dan kita uji, seberapa tingkat kematangan para calon pemimpin Jawa Barat.

Sebuah fenomena yang mestinya kita kritisi secara bersama adalah setiap ada debat calon kepala daerah yang terjadi adalah satu calon dengan calon yang lain saling menyerang dan menjelek-jelekkan program. Mengapa mereka tidak fokus pada program yang ingin mereka ajukan? mengapa mereka tidak fokus mengambil hati rakyat dengan sebuah gagasan? mengapa justru lebih sibuk mengumbar kekurangan-kekurangan pemimpin sebelumnya? apakah tidak ada rasa percaya terhadap program mereka?

Apa yang ditunjukkan oleh Ahmad Heryawan semalam kemudian membawa saya pada ingatan tentang Debat calon pemimpin-calon pemimpin sebelumnya. Pertama adalah debat calon Gubernur Jakarta, yang menjadi obyek pengamatan saya adalah pasangan Jokowi-Ahok, saya menilai pola debat yang mereka lakukan sangat elegan. Saat seluruh calon lain secara membabi buta menjatuhkan lawannya terutama Fauzi bowo, Jokowi justru mengeluarkan statement yang sangat gentle, beliau mengatakan bahwa untuk membangun Jakarta itu semua sudah ada blue printnya sudah ada programnya, sejak zaman Pak Fauzi bowo, sejak zaman Bang Yos dan bahkan sejak Zaman Ali Sadikin. Artinya Jokowi sama sekali tidak menafikan pemimpin-pemimpin sebelumnya. Yang menjadi titik tekan adalah kalau programnya sudah bagus, kalau blue printnya sudah bagus dikerjakan, dikerjakan dan dikerjakan. Dikawal terus sampai benar-benar jalan. Dari situ saya sudah memiliki prediksi bahwa Jokowi sudah memenangkan hati para pendukungnya, maupun lawannya.

Kemudian saya bandingkan dengan acara debat calon presiden RI pada tahun 2009, yang saya perhatikan di sini adalah bagaimana cara JK menyampaikan. Saya masih sangat terkesan dengan berbagai terobosan yang beliau sampaikan. Saya dan bahkan hampir seluruh mahasiswa yang saya kenal sependapat dengan gagasan penyelesaian masalah; Lebih Cepat Lebih Baik. Namun ada satu celah yang menjadi kelemahan JK waktu itu, di mana beliau mengungkapkan semua sisi buruk dari metode kepemimpinan SBY yang sampai membuat muka SBY terlihat begitu kecut dan saya rasa seluruh pemirsa melihat bagaimana SBY sampai salah tingkah dan cukup terbata-bata dalam menjawab pertanyaan. Bahkan tak berhenti sampai di situ saja, JK sempat memberikan suguhan menarik dengan adegan sepatu kulit yang dia pakai yang merupakan produk dalam negeri. Apa yang dilakukan JK itu memang untuk kalangan pelajar, mahasiswa, pengusaha dan orang-orang terdidik telah memberikan kesan : hebat, salut, dan luar biasa terhadap sikap JK. Tetapi ternyata bagi kalangan tertentu terutama orang jawa, orang-orang di desa dan juga orang-orang sepuh dianggap sesuatu yang tidak simpatik sehingga terkesan SBY dizhalimi oleh JK, dan inilah menjadi kekalahan JK saat itu. Kalah untuk hati orang-orang yang semestinya mendukungnya dan kalah untuk hati lawannya.

Maka, sebuah pembelajaran buat para calon pemimpin yang akan maju ke depan untuk merenungi apa yang semestinya dilakukannya, apakah sibuk mencari-cari kekurangan lawan politiknya ataukah sibuk menyusun program-program unggulan untuk meraih hati para calon pemilih yang kemudian disertai dengan sikap elegan.

Akhirnya, terlepas apapun hasil Pilkada Jabar nantinya saya mengucapkan selamat kepada Ahmad Heryawan yang telah menang. Dalam hal ini memenangkan hati para pendukungnya dan hati lawannya.

Menutup tulisan ini, saya kutipkan perkataan Dicky Candra, “Semoga kita tidak menjadi orang yang merasa paling benar dan sempurna, hingga begitu ringannya kita menjelek-jelekkan orang lain hanya karena keinginan pribadi dan kelompok. Mari kita hargai perbedaan karena kesempurnaan hanyalah milik Allah. Dan apapun kata mereka tak akan merubah pendirian bahwa melanjutkan sesuatu yg baik walau mungkin “tidak sempurna” jauh lebih baik ketimbang “memulai segala sesuatunya dari NOL”

Sumber: Kompasiana

Selasa, 19 Februari 2013

Kesederhanaan dan Kebersahajaan Tokoh PKS

pkspasarmanggis - Bismillahirrahmaanirrahiim


Diakui, memang ada sebagian kecil dari tokoh-tokoh PKS yang terlihat hedonis dan bergaya hidup mewah, tapi itu adalah yang terlihat dimedia. Sebenarnya masih banyak kader-kader PKS yang hidup sederhana dan bersahaja, dicintai oleh masyarakat. Tapi ini tidak ekspos media. Media tidak pernah mengangkat tentang kesederhanaan tokoh-tokoh PKS dan kedekatan mereka dengan masyarakat. Wajar jika masyarakat hanya tahu kalau tokoh-tokoh PKS itu gaya hidupnya mewah, karena memang hanya mereka yang disorot media.



Saya akan kultwit “sebagian kecil” dari tokoh dan kader PKS yang sederhana, jauh dari kehidupan mewah. Pertama saya akan mnceritakan pandangan masyarakat sekitar Padepokan Madani, Lembang, tentang sosok Ustadz Hilmi Aminuddin (HA). Ustadz HA memang kaya, tapi beliau sangat dicintai masyarakat sekitar Padepokan Madani. Dua tahun yang lalu alhamdulillah dalam sbuah kegiatan saya punya kesempatan ke Padepokan Madani dan menginap satu minggu disana. Selama kegiatan disana, saya dan teman-teman menyempatkan diri untuk main-main keluar padepokan, melihat indahnya alam dan ngobrol dengan masyarakat. Kita bertemu dengan penduduk, mulai dari ojek, peternak, petani, penjaga warung. Semua mereka menyukai ustadz HA. Kita sengaja bertanya ke penduduk tentang pandangan mereka terhadap ustadz HA, kita mendapat jawaban yang sama, mereka mencintai ustadz HA. Menurut pengakuan tukang ojek, ustadz HA orang yang ramah, tidak membuat jarak dengan mereka. Kadang bikin mereka malu sendiri. Sebagian warga yang lain bilang, ustadz HA sangat baik dan dermawan, mereka sangat menyukai ustadz HA.

Saya juga masih ingat ucapan seorang pemilik warung; ustadz HA sangat ramah, tidak segan-segan beliau membuka kaca mobil skedar hanya untuk menyapa. Pemilik warung tadi juga bilang; saya kadang malu sendiri, kita yang bukan siapa-siapa, tapi beliau begitu ramahnya dengan kita. Saya memang belum pernah berinteraksi langasung dengan ustadz HA, tapi tadi semua adalah penilaian warga tentang sosok ustadz HA. Walau banyak isu-isu negatif tentang ustadz HA, tapi masyarakat sekitar beliau sangat mencintai dan menghormati beliau. Saya awalnya dulu juga agak terpengaruh dengan isu-isu negatif tentang ustadz HA, tapi setelah mendengar langsung penilaian warga sana, saya jadi kagum dengan beliau. Saya mendengar langsung penilaian mereka dan melihat langsung ekspresi mereka, saya sangat terharu dengan penilaian mereka terhadap ustadz HA.

Selanjutnya saya akan bercerita tentang sosok lainnya, yaitu ustadz Iman Santoso Lc, beliau adalah Dewan Syariah Pusat (DSP) PKS. Alhamdulillah saya berkesempatan berinteraksi dengan ustadz Iman Santoso Lc (IS) dan berkesempatan menimba ilmu Al-Quran di tempat beliau.

Pertama saya berinteraksi dengan ustadz IS, saya betul2 tidak menyangka kalau beliau adalah DSP PKS. Ustadz IS sngat sderhana, kebetulan saat ini saya tinggal disamping tempat tinggal beliau (hanya dibatasi dinding, karena rumah susun kontrakan). Rumah ustadz IS sangat sederhana (kalau menurut ukuran saya rumahnya cukup kecil), rumah beliau rumah kontrakan. Ketika pertama kali melihat rumah (kontrakan) ustadz IS yang sngat sederhana, saya langsung kaget. Rumah DSP PKS kok sekecil ini. Ustadz IS memang mempunyai rumah sendiri ditempat lain, tapi rumahnya juga sederhana, juga tidak terlalu besar dibandingkan rumah kontrakannya.

Aktivitasnya lebih banyak dihabiskan dirumah kecil kontrakannya daripada rumah pribadinya (yang juga tidak besar). Ustadz IS juga tidak punya mobil, kendaraannya cuma motor Honda Supra, kadang beliau berpergian dengan naik angkutan umum. Tempat naik/turun angkutan umum dari rumah beliau cukup jauh, kadang beliau jalan kaki kesana, kita yang melihatnya yang jadi sedih dan terharu. Ustadz IS orangnya juga sederhana, pakaiannya juga biasa-biasa saja. Pokoknya kalau lihat beliau, tidak nyangka kalau beliau petinggi PKS. Saya dan teman-teman juga sering main futsal atau badminton dengan ustadz IS, beliau tidak sungkan/kaku dekat dengan kita-kita. Beliau berbakat jadi atlet. Hehe…

Saat anak-anaknya lagi ngumpul dirumah (pulang dari pesantren/ngumpul puasa), ustadz sering tidur dimasjid dekat rumah beliau. Rumahnya kecil tidak muat. Itulah sosok ustadz IS, beliau tinggal di Jaktim, Kramatjati, Condet. Alhamdulillah saya bisa menimba ilmu langsung dari beliau.

Selanjutnya saya ingin berceria tentang beberapa Aleg PKS yang sy kenal dan saya pernah berinteraksi langsung dengan mereka. Saya kenal dengan Aleg PKS daerah yang kendaraannya cuma motor Yamah Vega keluaran lama, padahal beliau juga seorang Ketua DPD. Aleg 2 periode juga. Saya membandingkan dengan beberapa Aleg dekat rumah saya (luar PKS), baru beberapa bulan jadi Aleg sudah punya mobil dan mampu bagusi rumah. Beliau memang punya mobil inventaris untuk Ketua DPD, tapi beliau sering hanya pakai motor bututnya. Saya pernah minjam motornya, terasa sekali kurang enak/nyaman karena motornya sudah tua. Saya berpikir, subhanallah…zuhudnya ustadz ini.

Jika pertama bertemu beliau, mungkin tidak ada yang nyangka beliau Anggota Dewan. penampilannya sangat sederhana. Beliau juga sangat akrab dengan kita yang muda-muda; ramah dan tidak ada jarak dengan kita. beliau sering lebih dulu menyapa kita. Pernah dalam suatu agenda, ketika acara agendanya selesai, beliau sendri yang langsung mengangkat minuman kotak sisa acara. Padahal disana banyak anak mudanya, beliau tidak memerintahkan/minta tolong ke kami. Kami jadi malu sekaligus salut dengan beliau. Padahal beliau Aleg dan Ketua DPD

Selanjutnya Anggota Dewan PKS yang lain; saya juga pernah kerumah Aleg PKS. rumahnya juga sangat sederhana. Beliau Aleg 2 periode. Kembali saya berpikir, kalau beberapa Aleg didekat rumah saya (luar PKS), gak ada rumahnya yang kayak gini, kecil dan sederhana. Beliau tidak pnya mobil, kendaraan beliau motor supra keluaran lama, tidak bisa lagi dibilang bagus. subhanallah, sangat sederhana. Saya kalau melihat beliau sering terharu, masih ada Anggota Dewan yang seperti ini. Penampilan kesehariannya tidak menunjukkan beliau sebagai pejabat

Saya juga pernah bertemu dengan Anggota Dewan Provinsi 2 periode dari PKS yang masih tinggal dirumah kontrakan. saya juga pernah terharu dengan ummahat anggt Dewan dari PKS, saya pernah melihat beliau diboncengi suaminya pake motor yang sudah tua dan jelek. Tidak punya mobil. Kisah lain lagi, seorang teman menceritakan ke saya, pada saat lebaran beliau silaturrahmi ketempat ustadz Aleg PKS 2 periode, juga Ketua DPW. Saat berkunjung kerumah ustadz tersebut, teman saya terharu karena melihat isi rumah ustadz Aleg tadi. Tidak ada sofa mewah, tidak ada hiasan dinding. Sederhana. Teman saya berkata; padahal selama ini beliau sering bersu'udzon dengan ustadz-ustadz Aleg, tapi melihat langsung kehidupan mereka membuat beliau sedih dan terharu.

Demikian kultwit saya tentang tokoh dan kader PKS yang sederhana dan bersahaja. Saya ingin mengatakan masih banyak orang-orang PKS yang sederhana dan dicintai masyarakat. juga langsung percaya ketika ada yang bilang PKS haus kekuasaan dan kekayaan. Twit saya ini hanya sebagian kecil dari kader-kader PKS yang hidup sederhana dan bersahaja, karena kebetulan saya pernah berinteraksi dengan mereka.

Saya sangat yakin, masih banyak tokoh dan kader PKS yang sederhana seperti mereka. Apa yang saya ceritakan ini bukan “kata orang-kata orang”, tapi mereka adalah orang yang saya pernah berinteraksi langsung dengan mereka. Mengapa banyak yang tidak tahu tentang kehidupan sederhana kader-kader PKS? Karena media tidak pernah memberitakannya.

Kalaupun media tahu kehidupan sederhana mereka, kemungkinan media juga tidak bakal memberitakannya. Yang diberitakan hanya kader-kader yang hidup mewah. Kalau bukan kita yang jadi media dakwah ini, lalu siapa lagi? Berharap dengan media sekuler? Maka jadilah kita sebagai media-media itu. Jangan pernah langsung percaya “apa kata orang” dan “apa kata media” tentang kehidupan tokoh dan kader PKS sebelum melihat langsung orangnya.

Saya selalu terharu kalau mengenang kesederhanaan mereka.

Senin, 18 Februari 2013

Harusnya Malu Pada PKS

pkspasarmanggis - Pemberitaan yang kita dapat baik di media elektronik, media cetak maupun di alam maya tentang kasus yang menimpa Presiden PKS Lutfhi Hasan Ishak selalu mengetengahkan sisi negatif dari kejadian tersebut. Kita berbondong-bondong menghujat bahwa PKS yang berbasis Agama Islam pun tergiur untuk korupsi. Semua akan berkata bahwa tak ada lagi partai yang patut diteladani. Dan semua akan menghakimi bahwa PKS memang tak layak dipercaya lagi.



Aku bukanlah salah seorang pengurus dari partai tersebut, bukan pula simpatisannya. Tapi aku mencoba melihat sisi baik dari kejadian demi kejadian yang dialami oleh partai tersebut. Beberapa kali kejahatan baik secara etika, moral maupun finansial yang dilakukan oleh insan PKS selalu berakhir mundurnya mereka dari khasanah perpolitikan di tanah air secara sukarela. Sebagai contoh kasus sederhana yang dilakukan oleh Politisi Partai Keadilan Sejahtera Arifinto bulan April tahun lalu yang ketahuan membuka gambar porno saat sidang paripurna DPR akhirnya dengan suka rela tanpa tekanan ia mengundurkan diri sebagai anggota DPR. Dan dengan jantan ia mengakui perbuatannya serta meminta maaf kepada seluruh kader, simpatisan, konstituen PKS, DPR dan masyarakat Indonesia dalam sebuah jumpa pers di Gedung DPR.

Dan masih banyak kasus-kasus lain yang dilakukan oleh individu-individu dari PKS yang berujung mundurnya mereka dari dunia perpolitikan tanah air. Barangkali kasus (maaf) kentut di depan umumpun akan berujung mundur jika dilakukan oleh pengurus PKS. Lah, di diri mereka sudah tertanam rasa malu (sebagai ciri orang yang beriman, sedangkan manusia tidak pernah luput dari perbuatan salah. Dan budaya mundur jika menyimpang dari norma dan aturan telah tertanam, mulai dari pengurus paling rendah sampai pengurus tertinggi, seperti yang dilakukan oleh Lutfhi Hasan Ishak selaku Sang Presiden yang merupakan pejabat paling tinggi di PKS, walaupun masih berstatus tersangka dan belum tentu terbukti bersalah, tapi dengan lapang dada ia telah mengumumkan pengunduran diri dari kepemimpinannya di PKS. Coba kita perhatikan pada partai lain, mungkin baru Andi Malarangenglah yang melakoninya, yang lain……..? harus disuruh mundur dulu baru mau, bahkan sebagian akan berujung pada kasus-kasus di Pengadilan karena tidak rela jika dilengserkan.

Nah, bercermin dari sini, sebagai salah satu masyarakat Indonesia yang tak luput dan tak bisa lepas dari hak memilih dan dipilih, juga tak diperkenankan untuk Golput, walaupun belum tentu akan menjatuhkan pilihan pada PKS, tapi menurutku PKS masih menjadi partai yang terbaik. Alasannya tentu saja seperti yang telah kupaparkan di atas, dan ini akan berimbas pada partai ini ke depannya, bahwa partai ini memang menghendaki pribadi-pribadi yang mumpuni untuk menjadi pengurusnya, pribadi yang benar-benar jujur dan berjiwa ksatria dengan rasa berkebangsaan yang tinggilah yang bisa duduk di jajaran pengurusnya. Dan pribadi yang berintegritas tinggilah yang menjadi pribadi terpilih. Untuk mewujudkan suatu partai yang benar-benar bersih ya harus menyapu semua kotoran-kotoran di dalamnya. Tentu saja tidak bisa disamakan menyapu kotoran di lantai dengan kotoran yang ada di dalam partai. Tapi dibalik semua itu kita tentu saja masih berharap semua partai yang bertebaran di bumi pertiwi ini bisa menampilkan sosok-sosok yang bersih dan idealis sebagai cermin tingginya moralitas bangsa Indonesia.

Tulisan ini bukan kampanye, bukan iklan, bukan pula bentuk dukungan pada partai ini, tapi dibuat karena aku ingin menulis.

Sumber : Kompasiana

Simpatiku Buat PKS

pkspasarmanggis - Awalnya saya hanya seorang yang apatis dengan partai. Yang saya kenal hanya PPP, PDI/PDIP dan Golkar yang sejak turun temurun memang terkenal sejak dulu kala. Kemudian Demokrat karena saya ngefans banget dengan Bapak SBY. Siapa yang tidak kenal lelaki ramah, sopan, cerdas dan ganteng ini. Partai lain singkatannya saja kadang tidak ingat atau salah sebut. Memang sih dikalangan teman2 ada juga yang membicarakan PKS yang konon partai bersih. Tapi saya tidak melihat perbedaan antara satu partai dengan partai lain. Kalau ada beberapa orang partai besar yang terkena korupsi saya anggap wajar, toh karena anggotanya banyak jadi kalau ketangkap satu atau dua itu kan kebetulan kemasukan anggota yang jelek. Lagian partai kecil juga jadi bersih bukan karena memang bersih tapi karena belum kebagian. Jadi apa istimewanya ?



Makanya ketika ketua PKS ditangkap KPK saya anggap itu biasa walaupun memang agak luar biasa karena yang jadi maling itu bukan anggota biasa tapi ketua. Kan ketua itu biasanya diambil dari kalangan mereka yang paling bagus. Baik dari segi moral yang tidak suka maling, punya dana paling kuat atau punya pemikiran paling cemerlang. Namun anehnya mengapa media2 menjadikan berita itu seakan2 sesuatu yang luar biasa. Semua memuat dan menyorot. Apanya yang menarik ? Apa yang luar biasa ?

Karena itu mungkin saya tertarik dan ingin tahu. Saya baca-baca semua informasi tentang PKS. Kebetulan saya ada akses internet, jadi dengan google saya cari dengan kata kunci PKS. Ternyata sangat-sangat banyak berita. Saya perlu berhari-hari untuk membaca dan mengetahui PKS dari berbagai sisi. Tidak hanya saat KPK menangkap, bahkan semua berita mulai dari yang sangat negatif sampai positif saya dapatkan.

Banyak berita dan artikel yang memberitakan sisi jahat dan banyak berita dan artikel yang memberitakan sisi positif. Setelah membaca dan merenungi sampai timbul pertanyaan ? masa iya ada suatu kelompok orang yang sangat jahat sekaligus sangat baik ? Rasanya mustahil. Saya belum menemukan ada kelompok atau komunitas semacam ini. Makanya timbul suatu gagasan, ada 2 kemungkinan dari semua tulisan yang saya baca : 1. Kelompok yang sangat jahat tetapi mempunyai humas hebat luar biasa atau 2. kelompok yang baik tetapi dimusuhi oleh kelompok lain yang terusik karena keberadaannya

Kedua dugaan itu saya coba uji. Kalau PKS adalah suatu kelompok penjahat yang luar biasa seperti sebagian komentar2 yang melecehkan dan menghujat maka harusnya ada tim atau media yang menjadi tulang punggung untuk menutupi keberadaannya. Saya coba sisir berita dari semua stasiun TV. Ternyata tidak ada satupun yang secara konsisten memuji dan berusaha menutupi kejahatan PKS. Dari Koran, majalah juga tidak ada. Dari situs2 di Internet mungkin yang nyantol sebagai cukup lumayan membela hanya islamedia dan pkspiyungan, itupun dalam penilaian saya belum bisa dikatakan tulang punggung. Karena hanya ala kadarnya jika dibandingkan dengan raksasa seperti kompas, tempo, detik dll. Situs selain dua yang saya sebut memang ada yang membela tetapi kualitasnya sangat tidak bisa diperhitungkan, sangat acak-acakan. Diantara media yang mapan, mungkin hanya republika yang agak adil melihat dari 2 sisi, dan itu juga berarti bukan tulang punggung PKS. Dari sini saya menyimpulkan tidak mungkin PKS itu kelompok penjahat yang mempunyai tulang punggung media propaganda yang sangat bagus.

Akhirnya saya coba uji dugaan saya yang kedua, PKS adalah kelompok orang baik yang dimusuhi oleh kelompok lain dengan motivasi tertentu. Dari sini saya sisir berita-berita dengan cara per kasus. Jadi satu kasus kemudian saya potret dari berbagai komentar tentang kasus itu. Akhirnya saya simpulkan, bahwa kemungkinan besar dugaan saya benar.

Akhirnya menemukan berita di Kompas tentang tidak ada satupun anggota DPR dari PKS yang terkena kasus korupsi, bahkan ketika ada yang dihukum ternyata dibebaskan MA karena terbukti tuduhan mengada-ada. Berita2 tentang kegiatan-kegiatan PKS yang sangat positif dalam hal memperjuangkan masyarakat yang dilakukan terus menerus tidak hanya menjelang pemilihan. Bahkan yang menurut saya agak mengejutkan adalah pembelaan dari tokoh2 masyarakat ketika ada berita negatif. Kalau tokoh2 yang sama sekali tidak ada kaitan dengan PKS membela artinya ada kemungkinan memang PKS tidak salah alias hanya faktor persaingan atau iri hati.

Sebagai orang awam saya hanya bisa bersimpati kepada PKS. Saya hanya bisa menggumam dalam hati: Walaupun saya tidak bisa membantu anda, saya berjanji, paling tidak PKS akan mendapat tambahan 1 suara dari saya.

Sumber : Kompasiana

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More